Powered By Blogger

9 Agu 2010

Umat Islam Akan Unggul Jika Terapkan al-Qur’an

Umat Islam kurang menjadikan al-Qur’an sebagai “senjata” segala hal. Umumnya, hanya dibaca secara ritual semata

Hidayatullah.com--Posisi umat Islam sangat memprihatinkan. Hampir di berbagai belahan dunia terpinggirkan. Umat Islam, sekarang tidak lebih ibarat buih di lautan. Terombang ambing dibawa ombak. Tidak punya kekuatan dan tidak diperhitungkan. Di berbagai sisi lemah dan posisinya selalu ditentukan oleh musuh.

Padahal, umat Islam seharusnya menjadi umat yang, “Ya’lu wala yu’la ‘alaihi”. Tinggi dan tidak ada yang menandingi. Di berbagai lini selalu jadi penentu kebijakan dan pemimpin. Tapi, kini faktanya justru terbalik. Kondisi pelik inilah yang jadi sorotan mantan Dubes Qatar, Abd Wahid Maktub saat memberi tausyiah dalam acara targhib Ramadhan ”Ramadhan, Lejitkan Energi Iman Menuju Taqwa” di masjid Aqshal Madinah Pesantren Hidayatullah Surabaya, pada Sabtu (7/8).

Maktub mengatakan, kondisi itu tercipta karena salah umat Islam sendiri. Al-Qur’an, senjata umat Islam, tidak dijadikan sebagai “senjata” dan hanya dibaca secara ritual semata. Sedang isinya tidak dipraktikkan.

“Itulah penyebab umat Islam kalah dengan yang lain,” ujarnya. Padahal, jika umat Islam mau menerapkan isi al-Qur’an, Allah SWT akan menepati janji-Nya.

Lebih tegas, Maktub mengatakan, isi al-Qur’an sangat luar biasa. Tidak ada kitab sehebat al-Qur’an. Karena itu, umat Islam harus percaya dan yakin, bukan justru malu, minder, dan tidak bangga. “Tunjukkan bahwa al-Qur’an itu hebat,” tegas Maktub sambil mengepalkan tangan kanannya.

“Bukankah jelas dalam al-Qur’an, Allah katakan, “Laa raiba fiih”, imbuhnya. Jika memakai al-Qur’an, maka kita akan disegani dan dihormati.

Maktub mengatakan, Ramadhan adalah bulan al-Qur’an. Karena itu, sangat tepat bagi umat Islam untuk menjadikan momen bulan suci itu sebagai sarana mempelajari dan mempraktikkan al-Qur’an. [ans/www.hidayatullah.com]


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

8 Agu 2010

Siapa Bersugguh-sungguh, Ia Mendapatkannya

"Man Jadda Wa Jada.” (Barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya)
Hidayatullah.com--Kemiskinan bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan, boleh jadi, justru kemiskinanlah yang menjadi ‘cambuk’ penyemangat untuk menggapai cita-cita yang tinggi. Itulah yang dilakukan oleh Hadi beberapa puluhan tahun silam. Tak pingin terpuruk terus menerus dalam hal ekonomi, membuat Hadi nekat untuk terus melanjutkan sekolah, seklaipun hasratnya tersebut bertentangan dengan kehendak kedua orang tuanya. Ia menyadari, bahwa, hanya ilmulah yang mampu mengangkat derajat keluarganya, khususnya, dirinya sendiri dari ketidakberdayaan hidup, terutama masalah ekonomi, “Nabi kan pernah bersabda, bahwa barang siapa yang menginginkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, maka ilmulah kuncinya” ujar Hadi menyitir salah satu hadits Nabi Muhammad.

“Siapa yang akan membiayai sekolahmu? Wong makan saja kita sulit. Sudahlah, bantu saja bapak ngaret atau nyari kayu di hutan, ndak usah mikirin sekolah”. Demikianlah jawaban yang diterima Hadi, ketika ia menuturkan keinginannya untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi lagi.

Waktu itu, Hadi baru lulus SD. Sekalipun dapat balasan yang negatif dari orangtua, tidak membuat Hadi uring-uringan. Dia faham, bahwa kondisilah yang menyebabkan mereka memiliki pemikiran demikian. sebab itu, dia menjelaskan kepada kedua orang tuanya, soal biaya sekolah, dia tidak akan membebani mereka, ”Saya akan mencari uang sendiri untuk biaya sekolah. Yang terpenting, ibu dan bapak mengizinkan saya sekolah,” tegas Hadi waktu itu, yang kemudian dikabulkan oleh ibu dan bapaknya.

Dari segi finansial, memang, waktu itu, keluarga Hadi tergolong keluarga papa. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan saja, mereka masih kelepotan. Hampir setiap hari, yang menjadi menu utama mereka adalah nasih putih dan sepotong tempe atau ikan asin, ”kalau lauknya ikan asin, semuanya harus habis, hatta kepala dan tulang-tulangnya. Kalau tidak, ibu akan marah. Dibilang mubadzir” kenang Hadi.

Karena itu, nyaris masa kanak-kanaknya digunakan untuk membantu orang tua menyari kayu atau merumput di hutan. Setiap sepulang sekolah, dia langsung tancap gas untuk menunaikan tugas-tugas tersebut, tak peduli panasnya terik sinar matahari atau derasnya guyuran hujan. Jadi, bisa dibilang, sejak dini, Hadi telah terlatih untuk hidup mandiri. Sebab itu, senyum sumringah nampak di wajahnya, ketika orang tuanya mengabulkan permohonannya untuk melanjutkan studi, sekalipun harus berjuang sendiri.

Merantau

Tidak lama setelah itu, Hadi kecilpun mulai menyusun rencana. Dia putuskan untuk melanjutkan sekolah di salah satu sekolah Islam yang berlokasi di kota Surabaya. Padahal, daerah kelahirannya itu Lamongan. Jarak antar keduanya (Lamongan-Surabaya) ± 90 km.

Tidak berapa lama setibanya di kota pahlawan tersebut, Hadi langsung bergerak untuk mencari biaya hidup. Berbagai macam pekerjaan pernah dilakoni, salah satunya adalah sebagai sales roti. Jangan dibayangkan, dalam mengedarkan barang-barangnya, Hadi menggunakan sepedah motor, sehingga mempermudah jarak tempuh. Tidak sama sekali. Dia menggunakan sepedah pancal. Hampir setiap hari, Hadi harus menempuh berkilo-kilo meter perjalanan dengan mengayuh sepedah untuk menjajakan jualannya.

Selain tekun bekerja, ada kelebihan lain yang dimiliki Hadi. Dia mampu membaca peluang bisnis. Dan keistimewaan inilah yang kemudian hari, menyebabkannya menjadi orang sukses. Pernah suatu hari, kenangnya, dia menghadap kepala sekolah, untuk mengajukan diri menjadi fasilitator dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekolah/guru. –misal- pembuatan seragam guru. Bagai kejatuhan buah duren, sang-kepala sekolah pun mengabulkan. Dan dari sini, penghasilan Hadi mulai bertambah. Bahkan, meskipun tidak banyak, dia mampu mengirimi keluarganya uang, untuk belanja atau sebagai tambahan biaya sekolah adik-adiknya.

Siswa Berprestasi

Hadi bukanlah tipe anak yang hanya piawai dalam mencari ma’isyah (kehidupan). Dalam hal intelektualitas, dia juga tidak ketinggalan. Terbukti, hampir setiap semesteran, nilainya selalu yang terbaik, sehingga berhak mendapatkan beasiswa dari pihak sekolah. Terang saja, kondisi demikian sedikit-banyak telah meringankan biaya hidupnya.

Selesai mengetaskan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Hadi langsung melanjutkan sutidanya (SMA) di almamater yang sama. Prestasi-prestasi akademis, terus dia peroleh, sehingga nyaris dia tidak pernah membayar uang sekolah.

Terakhir beasiswa dia dapatkan ketika dirinya dinyatakan lulus di salah satu Universitas Negeri ternama di kota yang sama, Surabaya. Hal ni diberikan pihak sekolah untuk jangka waktu satu semester kepadanya, sebagai bentuk apresiasi, karena Hadi merupakan alumnus pertama sekolah tersebut yang mampu lulus di universitas negeri,”sebelumnya tidak pernah ada yang lulus”, paparnya.

Ada kenangan yang tak terlupakan oleh Hadi, ketika dia dinyatakan lulus SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasis Baru) di universitas tersebut. Perasaan senang dan bingung, bahagia dan sedih bercampur aduk mengiringi kesuksesannya. Betapa tidak, sebagai calon mahasiswa, tentu dia bangga dengan kekeberhasilannya. Akan tetapi, di lain pihak, dia juga dibingungkan dengan biaya kuliah yang pastinya tidak sedikit.

Di tengah kekalutannya tersebut, Hadi memutuskan untuk berkonsultasi dengan pihak keluarga, terutama kepada sang-ayah dan ibu. Mendengar tuturan dari buah hatinya, air mata sang-ibu tak terbendung, membasahi kedua pipinya. Dengan suara agak tertahan oleh isakan tangis bahagia, perempuan tersebut menyerahkan sesuatu pada Hadi, ”Ini maskawin ibu. Ambillah untuk biaya kuliahmu,” tuturnya yang membuat Hadi agak merinding mendengarnya, yang kemudian juga mencucurkan air mata. Pada awalnya, pemberian tersebut ditolak oleh Hadi, namun, karena melihat begitu kerasnya keinginan bundanya tersebut, Hadipun mengambilnya sebagai bekal untuk kuliah.

Emas tersebut kemudia dijual oleh Hadi. Sebagian untuk biaya kuliah dan biaya hidupnya, sebagian lagi, untuk membuka bisnis warung kecil-kecilan. Setelah menyelesaikan studinya, yang memang fokus mengambil jurusan ekonomi, Hadi langsung terjun kelapangan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh.

Bisnis di area pelabuhan adalah incarannya. Hal itu dipilih, karena dia yakin bahwa pelabuhan merupakan pusat dari kegiatan ekonomi, ”Di sinilah (pelabuhan), seluruh barang-barang ekspor/impor mangkal untuk pertama kali, sebelum diedarkan ke seluruh daerah/negara. Peluang ini yang saya tangkap”. terangnya menuturkan alasannya. Berkat keuletan Hadi, tak ayal, dari tahun ke tahun bisnisnya terus berkembang. Bahkan, kini Hadi telah menjadi salah satu milioder. Dia telah memiliki ratusan kayawan/karyawati. Bisnisnyapun telah melebar ke penyewaan villa, butik, apotik, dan lain-lain. Bahkan, relasi bisnisnya pun tidak lagi seputar Indonesia, namun, telah melebar ke beberapa negara, salah satunya adalah China.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Polisi Berlakukan UU Pornografi Tersangka Pengelola Situs Porno

Polri menangkap seorang tersangka tindak pidana pornografi. Selain pengelola situs porno, ia juga menggandakan VCD maksiat

Hidayatullah.com--
Badan Reserse dan Kriminal Polri menangkap seorang tersangka atas nama Rico Handjaja (29) karena melakukan tindak pidana pornografi pada Rabu (28/7) di kawasan Kalideres Jakarta Barat. Penjual DVD porno melalui dua situs mesum yang dikelolanya ditangkap penyidik Direktorat II Ekonomi Khusus Bareskrim Mabes Polri.

Kepada wartawan, Ketua Unit V IT dan Cyber Crime Mabes Polri, AKBP Laksmi Damayanti. mengatakan semula tersangka RH, 29, membuka situs gratisan untuk menawarkan berbagai film porno. Pada Juli 2009, tersangka membuat dan mengelola dua situs dengan alamat sendiri di rumahnya di Perumahan Citra Garen, Kalideres, Jakbar. Selanjutya, ia membuat paket DVD film porno.

“Aksinya terungkap setelah petugas menyamar menjadi anggota situs itu dan memesan paket DVD porno,” ungkap AKBP Laksmi, Jumat (6/8) siang. “Setiap DVD djualnya Rp12.500 hingga Rp25.000. Pengiriman dilakukan degan mentransfer uang berikut ongkos kirim.”

Selanjutnya, polisi mencari alamat rumah tersangka. Saat digerebek, tersangka berada di kamar tidur merangkap ruang kerjanya. Di tempat itu berserakan barang bukti mulai dari komputer, pengganda film, 7 HP, berbagai kartu ATM, ratusan DVD porno dan DVD kosong.
"Tersangka Rico ditangkap di tempat tinggalnya yang beralamat di perumahan Citra Garden Jalan Citra I Blok C-7 Nomor 4 RT 03, Kalideres, Jakarta Barat," kata Wakil Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Wakadiv Humas) Polri, Kombes Pol. I Ketut Untung Yoga Ana di Jakarta, Jumat.

"Motivasi tersangka adalah untuk mengambil keuntungan dari penjualan DVD porno yang Rico jual melalui situs internet," ujarnya.

Yoga mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan tersangka Rico tersebut diduga keras telah melakukan tindak pidana dengan sengaja memproduksi, membuat, memperbanyak, menggadakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi untuk umum.

"Saat ini, tersangka ditahan di Rutan Bareskrim Polri sejak tanggal 29 Juli 2010 untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dan diancam Pasal 29 junto Pasal 4 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi," katanya.

Dari hasil penangkapan tersangka Rico, petugas berhasil mengamankan barang bukti, di antaranya satu unit CPU dengan hardisk, satu unit monitor komputer, satu unit komputer jinjing, satu unit modem, dan tiga unit DVD RW.

"Selain itu, barang bukti lainnya yang disita adalah dua paket DVD porno yang sudah dikirim, lima DVD porno master, tiga kotak DVD siap kirim, tujuh unit handphone, dan beberapa lembar kartu anjungan tunai mandiri (ATM)," kata Yoga menambahkan. [ant/hidayatullah.com]


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

LAPAN: Hilal Kemungkinan Tak Terlihat

Diperkirakan, pengamatan terhadap hilal akan terganggu oleh perubahan cuaca, artinya akan ada banyak hujan dan awan

Hidayatullah.com--Tim peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Anatariksa Nasional (LAPAN), memprediksikan pengamatan rukyatul hilal penghitungan awal Ramadhan 1431 Hijrriah, yang akan dilakukan beberapa ormas islam, pakar astronomi dan kementerian Agama pada 10 Agustus mendatang, kemungkinan tidak akan berhasil karena pada saat itu kondisi cuaca cenderung basah.


"Kami memperkirakan, pengamatan terhadap hilal akan terganggu oleh perubahan cuaca, artinya akan ada banyak hujan dan awan sehingga hilal tidak akan terlihat,"ungkap Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika LAPAN, Thomas Djamaludin, di Bandung, Jumat.

Thomas memaparkan secara teknis, jika rukyat dilihat pada optmimum konjungsi 2 - 3 derajat, praktis tidak akan terlihat karena konjungsi matahari dalam posisi tersebut terlalu rendah untuk diamati.

Di Jabar, durasi pengamatan pun cenderung pendek, yaitu sekitar 4 menit antara pukul 17 45-17 49.

"Itu pun jika kondisi cuaca mendukung, tapijika melihat prediksi ke sebulan ini, cuaca rata-rata di Indonesia memang sedang mengalami kemarau basah, jadi potensi curah hujan dan awan sangat tinggi hingga pertengahan agustus," tambah Thomas.

Jika tetap pada acuan rukyatul hilal,paparnya, kemungkinan dapat mengambil hilal Syar`i atau penetapan berdasarkan kesepakat bersama, karena secara fenomena alam tidak terdeteksi.

namun demikian, sambung dia, hasil amatan para ahli astronomi dan ormas islam, pada akhirnya akan ditentukan di sidang Istbat 10 Agustus secara resmi dari Kementerian Agama.

"Perbedaan ini hanya persoalan kriteria pengamatan saja. jika Muhammadiyah menggunakan wujuddul hisab, maka NU acuannya observasi, namun inti pelaksanaannya sama," terangnya.

Menurut Thomas, Jawa Bagian Barat sangat ideal untuk dilakukan pengamatan hilal karena umur bulan di lokasi tersebut relatif paling tua, yatu 7 jam 45 me basnit dengan ketinggian konjungsi matahari maksimum 3 derajat. sementara di daerah lain jauh dibawah hitungan tersebut.

Dengan alasan perubahan cuaca yang mengalami kemarau basah seperti saat ini, para astronom bersama Kemenag berencana akan menambah titik pengamatan, dari semula 90 lokas , menjadi 120 titik di seluruh Indonesia. [ant/hidayatullah.com]


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

4 Agu 2010

Pemerintah Minta APJII Lakukan Pemblokiran Pribadi

Pertumbuhan situs dewasa dan bermuatan pornografi mencapai 400 juta halaman dan terus tumbuh tiap hari

Hidayatullah.com—Banyaknya situs porno di Indonesia menyebabkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkoinfo) agak kesulitan menutup semua situs-situs maksiat.

Karena itu, pemerintah meminta pihak provider jasa layanan internet (ISP) dan pengusaha warnet ikut membantu menutup situs-situs yang merusak bangsa ini.

Pemerintah memiliki kendala jika harus menutup seluruh akses masyarakat ke situs yang mengandung konten porno pada bulan puasa yang tinggal beberapa hari.

Sebab, menurut pemerintah, saat ini ada pertumbuhan situs dewasa dan bermuatan pornografi mencapai 400 juta halaman dan terus tumbuh.

"Di sisi lain, sulit bagi operator untuk memantau internet terus menerus,” ujar Kepala Pusat Informasi dan Humas, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkoinfo) Gatot S. Dewa Broto di Jakarta baru-baru ini.

Saat ini Kemenkominfo bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) untuk mendapatkan dukungan terkait pemblokiran situs porno.

Sejak 21 Juli lalu Kemenkominfo telah mengingatkan kepada provider jasa layanan internet (ISP) tentang aplikasi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Artinya, anggota APJII juga berkewajiban aktif melakukan pemblokiran secara pribadi untuk meminimalisasi konten pornografi.

"Dari 15 ISP (Internet service provider) besar, sudah ada 5 operator yang telah mengambil inisiatif untuk memblokir situs porno," kata Gatot.

Secara terpisah, Menkominfo Tifatul Sembiring juga mengatakan, 97 persen siswa SMP mengaku pernah menonton situs porno, pembukaan situs selain di warnet juga di sekolah.

Para pengusaha warnet, kata Tifatul, hanya mendapat waktu sebulan, untuk memasang perangkat penyaring pornografi. Meski begitu, Tifatul mengakui, upaya ini akan memakan waktu yang cukup lama, karena ISP di Indonesia jumlahnya mencapai lebih dari 200, baik yang memiliki jaringan secara terbuka maupun tertutup.

"Saat ini kami sedang mengumpulkan berbagai kata kunci yang memungkinkan pengguna masuk ke situs berbau porno. Banyak kata yang memiliki harfiah berbeda dalam sebuah kalimat, namun ada juga yang istilah itu hanya muncul di negara kita saja, jadi perlu kecermatan," ungkapnya.

Selain warnet, Tifatul juga menegaskan kepada pihak sekolah yang memiliki sarana komputer, untuk langsung menanamkan software ini di setiap pirantinya. Salah satunya adalah program DNS Nawala yang dikembangkan oleh Awari. "Sudah saatnya semua mengaksesnya untuk berinternet sehat," katanya.

Sebagaimana diketahui, pekan pertama menjelang datangnya bulan Ramadan ini pemerintah meningkatkan filter terhadap situs pornografi di jaringan internet Indonesia. Pemblokiran akan diperketat untuk menghormati bulan suci bagi umat Islam tersebut.

Rencananya, filterisasi akan dilakukan secara berkala dan dilanjutkan hingga pasca-Ramadan.

Hingga saat ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkoinfo) mengaku harus berhati-hati dalam memutuskan penutupan akses ke situs-situs tersebut. Jika prosedur pemblokiran dilakukan tidak tepat maka bisa jadi akses masyarakat akan terganggu. [sap/hidayatullah.com]


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Kajian Shahih Al Bukhari di Yaman untuk Sambut Ramadhan


Kajian hadist menjelang Ramadhan marak di Yaman, dari ulama hingga kaum awam mengikutinya. Tak heran banyak muhadditsun dan fuqaha yang lahir di negeri tersebut

Hidayatullah.com--Yaman, walau terletak di wilayah yang “kurang strategis”, seperti Hijaz, yang selalu dikunjungi umat Islam dari seluruh negeri untuk haji dan ziarah serta tanahnya yang tandus, sehingga jarang disinggahi pedagang, tetapi Yaman memiliki “nuansa” tersendiri bagi para penuntut ilmu. Al Hafidz Ibnu Hajar Al Atsqalani adalah salah satu dari mereka yang tertarik, hingga beliau mengunjungi negeri ini untuk menimba ilmu.

Itu disebabkan karena di Yaman banyak terdapat ulama, dan memiliki tradisi keilmuan yang cukup kental, sehingga memberi kontribusi besar lahirnya para ulama fiqih dan hadits. Imam Al Umrani (558 H), penulis Al Bayan, Al Quraidhi Al Lahji (576 H), penulis Al Mustashfa, As Shan’ani (1182 H), penulis Subul Al Salam, Imam As Syaukani (1250 H), penulis Nail Al Authar, atau Abdurrahman Al Ahdal Al Yamani (1258 H), penulis Hasyiyah Syarh Al Madhal, semuanya termasuk deretan ulama negeri itu, yang tidak diragukan kapasitasnya, baik dalam fiqih maupun hadits. Maka benarlah sabda Rasulullah Saw.: ”Iman dari orang Yaman, Fiqih dari orang Yaman, HikmahYaman.” (Riwayat Al Bukhari)

Hal ini tidaklah mengherankan, karena, baik ulama maupun awam, memiliki perhatian terhadap ilmu, terutama Sunnah, apalagi terhadap Shahih Al Bukhari. Mereka semangat mengkaji, berlomba-lomba menghafal dan memperoleh sanad. Sehingga aktivitas menyimak Shahih Al Bukhari “menghidupkan” masjid-masjid, madrasah-madrasah, dan rumah-rumah penduduk.

Shahih Al Bukhari diprioritaskan, karena diakui oleh para ulama bahwa kitab ini memiliki derajat lebih tinggi dibanding kitab hadits lain.

Pada tahap selanjutnya, menyebarlah “tradisi positif” di berbagai wilayah Yaman, yakni dengan menjamurnya halaqah Shahih Al Bukhari di bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan.

Al Muhaddits Abdurrahman Sulaiman Al Ahdal menjelaskan beberapa alasan kenapa dipilih Rajab sebagai waktu permulaan halaqah. Karena bulan itu sudah mendekati Ramadhan, yang mana di dalamnya syariat puasa, zakat, qiyam lail digalakkan, sehingga umat Islam lebih memahami amalan-amalan itu. Apalagi setelah itu diikuti amalan haji yang menyangkut manasik dan safar, sebagaimana dinukil Syeikh Muhammad Abdurrhaman Al Ahdal dalam muqadimah Al Mustasyfa fi Sunan Al Musthafa (hal. 15).

Di samping itu, dengan adanya halaqah ini, maka mereka sudah terkondisi dengan aktivitas positif, yakni thalabul ilmi, sehingga setelah memasuki bulan Ramadhan, waktu tetap terisi dengan amalan mulia.

Membaca Shahih Al Bukhari yang dilakukan untuk menyambut Ramadhan ini mulai muncul di awal masa pemerintah Bani Rasul pada tahun 625 H. Penguasa itu memiliki perhatian besar terhadap keilmuan, khususnya hadits dan memuliakan para ulamanya.

Al Hazraji pernah merekam aktivitas ini pada tahun 881 H, di mana di awal bulan Rajab, para fuqaha berkumpul di daerah Zabid, Yaman. Lalu mereka bersama-sama menuju Ibnu Yaqub As Syairazi agar ia bersedia membacakan Shahih Al Bukhari. Di kota yang mendapat julukan madinah ilmi itu para ulama yang hadir untuk menyimak Shahih Al Bukhari mencapai 800 orang. (Al ‘Uqud Al Lu’lu’iyah, 2/249,250).

Selain di Zabid, di kota Al Marawa’ah juga terdapat halaqah Shahih Al Bukhari yang telah dirintis oleh Al Ahdal Ali bin Umar (607 H), dan hingga kini “tradisi” itu juga masih hidup, khususnya halaqah yang dimulai bulan Rajab.

Kota Bait Faqih pun tidak ketinggalan, halaqah Shahih Al Bukhari di wilayah itu dirintis oleh keluarga Alu Jam’an, yang dikenal sebagai keluarga yang amat mencintai ilmu, periwayatan hadits, dan fatwa.

Sedangkan di kota Adn, halaqah kitab yang dinilai paling shahih setelah Al Qur’an itu lebih mudah ditemui, karena terdapat di lebih dari satu tempat. Yakni di masjid Syeikh Abdullah Al Amudi (697 H), masjid Husain Sidiq Al Ahdal (903 H), masjid Al Atsqalani yang dinisbatkan kepada Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani yang pernah tinggal di kota ini selama 6 bulan. Di masjid itu Syeikh Al Muhadits Al Bijani (1391 H) juga mengajarkan Shahih Al Bukhari, sehingga saat ini masjid itu dikenal dengan masjid Al Bijani. Di kota Abyat Husain juga masih terdapat halaqah ini.

Halaqah Shahih Al Bukhari seperti jamur di musim hujan, beberapa kota seperti Zaidiyah, Dhuha, Al Hadidah, dan Ta’z juga masih hidup. Halaqah itu juga biasa dijumpai di komunitas Hadrami.

Oleh karena itu, banyak Muslim Yaman yang memiliki sanad yang menyambung hingga Imam Al Bukhari, dan sanad itu masih terus tersambung sampai zaman ini, yang merupakan lanjutan dari rantai periwayatan para ulama dan hufadz ternama di setiap zaman.

Sesuai dengan perkataan para salaf, ”Bulan Rajab untuk menanam, Sya’ban untuk menyiram dan Ramadhan untuk menyemai.” Rupanya, umat Islam Yaman tidak hanya menyemai pahala amalan pada bulan itu, karena banyak pula ilmu yang berhasil mereka “reguk” selama tiga bulan. Sehingga ilmu dan amal selalu beriringan.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Jelang Ramadhan, Minat Beli Kitab Kuning Malah Turun

Jumlah pembeli turun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Padahal harga kitab cukup murah dan terjangkau

Hidayatullah.com--Bagi para peminat buku berbahasa Arab di Jawa Timur, Jalan Kali Sasak Surabaya adalah daerah yang tidak asing, karena di sanalah pusat toko dan penerbitan kitab-kitab berbahasa Arab, baik yang lokal maupun yang impor. Berpuluh toko kitab berderet di kawasan yang banyak didiami oleh komunitas keturunan Arab ini.

Namun, tidak seperti yang terjadi di hari-hari menjelang Ramadhan di beberapa tahun sebelumnya, saat permintaan kitab naik, di tahun ini yang terjadi justru sebaliknya, minat beli turun. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Ahmad, salah satu pemilik toko dan penerbitan kitab di daerah tersebut.

”Tahun ini menurun drastis, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,” kata laki-laki keturunan Arab ini, tanpa menyebut jumlah penurunannya.

Ahmad menyangkal bahwa penurunan itu disebabkan oleh harga kitab, karena harga kitab yang ia jual justru amat terjangkau. “Bukan karena harga mahal, karena justru kitab-kitab itu amat murah harganya, paling 3 ribuan rupiah.”

Ahmad sendiri menilai bahwa penurunan minat itu karena menurunnya minat mengkaji Islam dengan menggunakan kitab-kitab yang ada. ”Semua tergantung pada pada berapa pesantren yang masih menggunakannya.”

Menurut Ahmad, penurunan pembelian tidak hanya dirasakan oleh penerbitnya. Semua penerbitan merasakan hal yang sama.

Umar, yang juga pemilik salah satu penerbitan, juga tidak merasakan bahwa bulan Ramadhan saat ini jumlah pembeli kitab naik. ”Belum tentu. Sekarang, hal itu tidak bisa dijadikan patokan,” tutur laki-laki yang 15 tahun telah menggeluti usaha dalam penerbitan kitab ini, kepada hidayatullah.com.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger