Powered By Blogger

4 Nov 2010

Al Mann, Racun Pemusnah Pahala Sedekah

Al Mann,  Racun Pemusnah Pahala Sedekah

Ramadhan kemarin, dan juga syawal, adalah moment untuk berderma. Keutamaan Ramadhan memancing iman untuk melakukan segala hal demi mendapatkan pahala yang berlimpah, termasuk dengan sedekah. Bulan Syawal meski fadhilahnya tak seisitimewa Ramadhan, juga sering dijadikan moment untuk berbagi. Tak jarang, bulan syawal dijadikan bulan tutup buku dan waktu mengeluaran zakat mal. Andai dibuat grafik, perolehan dana sosial pada titik Ramadhan-Syawal pasti jauh lebih tinggi dari bulan lainnya. Subhanallah, semoga apa yang telah didermakan, dicatat sebagai kebaikan,diberi pahala berlipat dan bermanfaat saat amal ditimbang di akhirat.Amin.

Nah, yang harus dilakukan sekarang adalah menjaga agar pahalaibadah maliyah itu tidak hilang. Hilang? Apa maksudnya? Bukankah bila sudah ikhlas hanya mencari ridha Allah, berarti sudah dicatat sebagai kebaikan dan pasti diberi pahala?
Benar sekali. Keikhlasan adalah jaminan bagi setiap amal kebaikan yang dilaksanakan sesuai sunah, untuk diganjar pahala.Dan sebaliknya, nihilnya ikhlas yang berarti wujudnya riya’ (hasrat mendapat pujian dan penghormatan)adalah pengganjal pena pencatat pahala. Namun, untuk sedekah, Allah telah memperingatkan bahwa pahala sedekah bisa berkurang atau bahkan hilang alias batal diberikan jika pemberi sedekah melakukan al mann. Apa itu al Mannu? Al mannu adalah menyakiti orang yang diberi sedekah dengan menngungkit-ungkit sedekah yang sudah ia terima.
Allah berfirman,
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2:262)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu denga menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir itu. (QS. 2:264)

Dengan al mannu, pahala sedekah seperti tanah di atas batu licin yang tersiram hujan deras, musnah tiada sisa. Hilangnya pahala pasti akan membuat kita kecewa. Namun rupanya, dampak al mannu tidak hanya itu. Rasulullah bersabda,
ثَلَاثَةٌلَايُكَلِّمُهُمْاللَّهُعَزَّوَجَلَّيَوْمَالْقِيَامَةِوَلَايَنْظُرُإِلَيْهِمْوَلَايُزَكِّيهِمْوَلَهُمْعَذَابٌأَلِيمٌالْمَنَّانُبِمَاأَعْطَىوَالْمُسْبِلُإِزَارَهُوَالْمُنَفِّقُسِلْعَتَهُبِالْحَلِفِالْكَاذِبِ
“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak diperhatikan dan tidak disucikan dan bagi mereka siksa yang pedih: si tukang ungkit atas segala yang diberikan, yang celananya menutupi matakaki dan yang menjual dagangan dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim).
Diacuhkan di akhirat,mengerikan sekali. Padahal saat itu, kepedulian atau belas kasih dari siapapun selain Allah tak akan berguna. ‘afaanallahu wa iyakum. Dan ini adalah penyakit yang rawan menimpa para mutashadiq, donatur sedekah, demikian Abu Hayan menjelaskan dalam al Bahrul Muhith II/318.
Imam al Ghazali dalam Ihya’ Ululmuddin (I/226) dengan gamblang menjelaskan bahwa implementasi al mannu adalah membicarakan apa yang sudah disedekahkan, memamerkan, menuntut rasa terima kasih, doa, penghormatan, rasa segan, mengharap agar hak-haknya dikedepankan, dan didahulukan dalam berbagai acara serta agar yang diberi menurutinya dalam berbagai hal.Sedang al Adzaadalah menghina si penerima sedekah secara eksplisit dengan berbagai cara.
Ancaman Laten.
Dengan demikian, al mann adalah bahaya laten yang mengancam pahala sedekah. Setelah mendapat pemberian, kebanyakan orang akan menaruh hormat dan merasa berhutang budi. Tapi itu tidak bisa selamanya. Namanya hidup, suatu saat akan ada gesekan atau bahkan pertikaian,sedikit atau banyak, termasuk antara orang yang pernah memberi dengan penerima. Apalagi yang namanya kebaikan lebih mudah dilupakan, sementara kesalahan, meski hanya sedikit, akan terpatri di ingatan. Nah, saat terjadi gesekan itulah, setan akan menghasung agar si pemberi mengeluarkan kartu trufnya, mengungkit apa yang pernah ia berikan, baik sedekah atau bantuan lain. Hal itu berfungsi untuk memberi tekanan dengan memposisikan lawannya sebagai pihak yang tidak tahu berterima kasih.
Kita harus waspada karena kondisi seperti itu dapat terjadi kapan saja. Barangkali kita merasa puas karena berada di atas angin. Tapi jika kepuasan itu harus ditukar dengan pahala yang sedianya akan kita dapatkan di akhirat, tentu pertukaran itu tidaklah seimbang.
Ternyata Ikhlas Juga harus dijaga
Ada tiga racun yang diramu setan untuk merusak amal kebaikan. Sebelum beramal, racun riya’lah yang digunakan. Racun riya’akan membuat orang kehilangan orientasi tentang kepada siapa seharusnya amal ia niatkan. Saat beramal, ada racun ghaflah yang disisipkan. Ghaflah adalah lalai yang bisa berupa hilangnya kekhusyu’an atau ketidakseriusan. Dan setelah amal dilakukan, masih ada racun perusak amal yang efeknya tak kalah ampuh dari dua yang pertama. Ada sum’ah dan al Mann. Sum’ah, menceritakan amal yang sudah dilakukan agar mendapat sanjungan. Dan untuk sedekah ada al Mann dan al Adza, mengungkit pemberian dan menyakiti hati yang diberi. Cukup dengan satu saja dari ketiga racun ini, pahala bisa musnah. Susah payah beramal dan beribadah, tapi pahala yang diharapkan telah musnah.
Untuk mengantisipasi racun al mann, ada baiknya kita merenungkan hadits Nabi berikut:
إِنَالصَّدَقَةَتَقَعُ فيِ يَدِاللهِعَزَّوَجَلَّقَبْلَأَنْتَقَعَفِييَدِالسَّائِلَ
“Sesungguhnya sedekah itu berada di tangan Allah sebelum sampai ke tangan orang yang meminta (menerima).” (HR. ath Thabrani, ref: Majma’ az Zawaid II/11).
Sedekah yang kita berikan hakikatnya telah kita berikan kepada Allah dan yang menerima mengambilnya dari Allah. Disamping itu, pada dasarnya rejeki itu akan sampai pada pemiliknya melalui siapapun. Pemilikinya adalah yang menggunakan dan memanfaatkannya. Jadi pada dasarnya si pemberi sedekah hanyalah perantara.
Orang yang mengungkit-ungkit sedekah seakan-akan merasa bahwa rejeki yang jatuh ke tangan si fulan itu bermula dari dia. Dialah yang memberikan dan menakdirkan harta itu sampai pada si penerima. Imam al Ghazali menyebutnya sebagai suatu ketidakmengertian(al jahlu) akan hakikat (Ihya’ I/226). Hakikat bahwasanya rejeki sudah ditetapkan, bahkan apa yang akan terjadi di seluruh dunia ini berjalan atas kehendak-Nya. Sedang Imam al Qurthubi menyebutnya sebagai bagian dari kesombongan dan ujub.
Jadi, sebenarnya tidak alasan untuk mengungkit-ungkit pemberian. Sebab, hakikatnya yang memberi adalah Allah. Tapi yang perlu dicatat, jika kita berada di posisi sebagai orang yang diberi, bukan persepsi ini yang kita kedepankan, tapi rasa terima kasih dan syukur. Wallahua’lam (T. anwar)


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Hina Dianggap Mulia


Hina Dianggap Mulia

Meniru adalah tabiat manusia. Sangat sulit bagi kita untuk tidak meniru. Toh, tak selalunya meniru itu buruk. Tergantung siapa yang ditiru, dalam hal apa dan bagaimana kita meniru. Ada nasihat orang arif di zaman dahulu, “Tasyabbahu, in lam takuunu mitslahum, fa innat tasyabbaha bil kiraam falaah,” Tirulah (orang mulia), kalaupun kamu tidak bisa persis mereka, sesungguhnya meniru orang yang mulia itu adalah keberuntungan.

Persoalannya adalah, terpampang di hadapan manusia banyak sekali pilihan yang memungkinkan untuk ditiru. Dari yang sekaliber dunia, hingga yang tingkatan lokal. Dari yang paling baik, hingga yang paling buruk, dan dari zaman Adam hingga zaman kita sekarang, dari yang berujud sosok perorangan maupun kaum atau golongan.

Pedoman umumnya sama, bahwa semua orang pasti memilih meniru tokoh atau kaum yang dianggapnya mulia, lebih mulia dari posisinya sekarang ini. Hanya saja, penilaian tentang siapa yang mulia dan siapa yang hina berbeda-beda, tergantung dari sisi mana mereka memandang.

Bila Diukur dengan Kaca Mata Dunia

Ketika era generasi sekarang terjangkiti penyakit akut bernama al-wahn , dengan indikasi hubbud dunya wa karahiyatul maut (gandrung dunia dan takut mati), maka kaca mata duniawi menjadi sudut pandang paling utama. Ukuran mulia adalah kemewahan dan kebebasan dalam mengekspresikan apa yang diinginkan. Kaum dengan tipe seperti inilah yang hari ini dianggap mulia, untuk kemudian dijadikan sebagai panutan dan idola. Simpel kata, sekarang banyak yang menjatuhkan pilihannya kepada komunitas Barat untuk ditiru. Mereka merasa bisa ’nebeng’ mulia apabila bisa mengikuti jejak mereka, mirip dengan mereka atau bahkan sekedar ikut-ikutan dan ’mengcopy-paste’ tradisi mereka. Padahal, mereka adalah representasi dari kaum Yahudi dan Nasrani, atau bahkan orang kafir secara umum. Hal mana Nabi Shallalahu alaihi Wasallam sudah mengingatkan sejak lama dengan sabdanya,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَ ذِرَاعًا بِذِرَاعٍ , حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ قُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ, اَلْيَهُوْدَ وَ النَّصَارَى ؟ قَالَ فَمَنْ ؟

“Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai seandainya mereka masuk ke lubang dhabb (semacam biawak), niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya. Kami (sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau berkata, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR Bukhari dan Muslim)

Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan tentang hadits di atas, “Yang dimaksud dengan sejengkal, sehasta dan penyebutan lubang dhabb dalam hadits ini menggambarkan betapa semangatnya umat ini mencocoki umat terdahulu dalam penyelisihan dan maksiat, mencontoh mereka dalam segala sesuatu yang dilarang dan dicela oleh syariat.”

Karena gandrungnya terhadap Barat, apapun yang berasal dari Barat diadopsi sebagai pegangan dan tradisi. Meskipun berupa perilaku maksiat, maupun pola pikir yang bertentangan dengan syariat. Pergaulan bebas dengan lawan jenis, kebiasaan minum khamr, nyanyian-nyanyian yang mengobral kata-kata cabul, dandanan yang mengumbar aurat dan pola pikir liberal adalah sebagian produk Barat menu utama yang dikonsumsi umat. Apalagi, media yang entah memiliki kepentingan sama dengan Barat, atau karena alasan komersil menjadi sarana yang sangat efektif menyebar ’virus’ tasyabbuh (sikup meniru) terhadap budaya Barat.

Padahal Mereka Hina

Adalah naif, jika kaum muslimin terkesima dan terpesona oleh keglamouran Barat. Atau menganggap mereka mulia, sehingga dengan suka hati menjadi penerus budaya mereka. Tidak layak pula kaum muslimin minder, apalagi bersedih lantaran tidak bisa bebas seperti mereka. Karena kemuliaan kita terletak pada keimanan yang kita pegangi, dan kehinaan itu apabila kita tanggalkan ketaatan dan keimanan, lalu menggantinya dengan dosa dan kekafiran. Bagaimana mungkin kita menganggap orang kafir mulia, sementara Allah menganggap mereka makhluk paling hina,

”Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke naar Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS al-Bayyinah 6)

Bila ditanya mengapa mereka dianggap hina, akan banyak alasan yang kita temukan dalam ayat-ayat maupun kalam rasul-Nya. Kehinaan suatu kaum bisa ditilik dari rendahnya tujuan dan cita-cita. Orang-orang kafir itu hina, karena puncak obsesi mereka adalah dunia yang hina, yang paling mereka buru adalah kenikmatan yang fana, tak sebanding dengan kenikmatan akhirat, baik dari sisi kadar maupun masanya. Allah telah menyingkap ‘goal setting’ yang diimpikan mereka,

Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka.” (QS. an-Najm 29-30).

Yakni, memburu kesenangan duniawi adalah obsesi terbesar mereka. Padahal, gambaran remehnya nilai dunia dibanding akhirat digambarkan Nabi saw seumpama tetesan air yang menempel di jari-jari, dibanding seluruh air di samudera, sungguh tak terukur jauhnya selisih antara keduanya. Karena murahnya dunia di sisi Allah, maka Allah memberikan kekayaan dunia kepada siapapun, tanpa membedakan yang mukmin dan yang kafir, yang dicinta maupun yang dibenci. Andai saja dunia itu berharga di sisi Allah, tentu Dia hanya akan menganugerahkan kepada orang-orang yang dicintainya saja. Rasulullah SAW bersabda,

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia itu di sisi Allah senilai dengan sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak memberikan minum kepada orang kafir, meski hanya seteguk air.” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan shahih)

Begitu remeh cita-cita orang yang tak beriman. Yang karenanya, sehebat apapun mereka, Allah menganggapnya sebagai kaum yang tidak berakal, tidak memahami dan tidak mengetahui?Bagaimana mereka jadikan dunia sebagai tujuan akhir hidupnya, sedangkan ujung dari kehidupannya adalah kematian? Boleh jadi ajal datang sebelum mereka sempat menikmati jerih payahnya, selain hanya sedikit saja. Pun, kenikmatan yang remeh temeh itu harus dibayar dengan penderitaan yang kekal di neraka. Maha Suci Allah yang berrfirman,

”Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS. Ali Imran 196 – 197)

Mereka Juga Menderita

Mungkin umat yang meniru orang kafir hanya melihat yang enak-enak saja dari mereka. Seakan hidup tanpa beban, bersenang-senang dan menyalurkan keinginan sesuka hati. Padahal, realitanya tak seperti yang mereka duga. Tak ada satupun manusia hidup tanpa pernah menghadapi masalah. Selalu dan pasti ada dua warna dalam hidup, sedih dan gembira, sehat dan sakit, tangis dan tertawa serta kemudahan dan kesulitan. Justru orang yang beriman memiliki nilai sangat lebih dibanding orang-orang kafir,

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (QS. An-Nisa’ 104)

Harapan inilah yang menjadi faktor peringan dari beban insan beriman. Harapan untuk mendapatkan ganti yang lebih baik di dunia, pahala yang lebih besar lagi di sisi Allah, dan juga harapan terhapusnya dosa dan kesalahan. Karena sekecil apapun musibah menimpa insan beriman, bisa menghapus dosa-dosanya. Nabi saw bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا سَيِّئَاتِهِ ، كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

”Tiada seorang muslim pun yang ditimpa suatu gangguan, baik karena duri maupun yang lebih berat, kecuali Allah menghapus kesalahan-kesalahannya, sebagaimana pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari)

Berbeda dengan mereka. Tak ada alasan yang meringankan, tak ada pula kompensasi di akhirat atas musibah yang dideritanya. Derita dunia bagi mereka hanyalah ’pendahuluan’ dari siksa yang akan menimpa mereka di akhirat. Maka layakkah kita meniru kaum yang memiliki masa depan begitu suram seperti mereka? Alangkah indah motto Khalifah Umar bin Khathab, Innaa qaumun a’azzanallahu bil Islam, falan nabtaghil ’izzah bighairihi. Kami adalah suatu kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam, maka kami tidak mengharapkan lagi kemuliaan selain dengannya. Wallahu a’lam. (Abu Umar Abdillah)


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Ada "Zionis" di Balik Tuntutan Referendum Papua

Ketua Gerakan Merah Putih, H Ismail Yenu mengatakan permintaan referendum itu hanya sebagian kecil rakyat Papua

Selasa siang (2/11), sekelompak orang di Manokwari melakukan aksi unjuk rasa menuntut referendum untuk Papua Barat. Masa yang berkumpul sejak pukul 09.00 WIT itu berkonsentrasi di depan gedung Dewan Adat Papua, Jl. Pahlawan, Manokari.

Dalam pantauan hidayatullah.com di lokasi, masa yang berkumpul berjumlah sekitar 150 orang. Menurut petugas polisi yang berjaga, mereka rencananya akan segera melanjutkan aksi di gedung DPRD Kab Manokwari. Nampak salah satu peserta aksi, seorang bapak-bapak tua sambil membawa bendera Zionis Israel meneriakan referendum.

"Rakyat Papua minta bantuan internasional agar Papua mendapatkan perlakuan khusus dengan referendum," teriaknya.

Di antara mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan: “Papua zona darurat dan rakyat asli Papua sedang menuju kepunahan ras. Maka kami mendesak intervensi internasional untuk referendum bangsa Papua”, “Referendum is peace solution for West Papua”, “Tarik mundur TNI dan Polri dari tanah Papua dan PBB segera intervensi Papua Barat.”

Sementara itu, "Mereka tidak mengerti sejarah. Dan mereka yang minta referendum itu tidak tahu Islam. Islam sudahlah agama yang sempurna," ujar mantan pendeta yang juga mantan kepala suku Yapen Waropen.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Al-Muthlaq: Tidak Boleh Kampanye Politik Selama Haji

Al-Muthlaq juga berfatwa tidak diperbolehkannya berhaji bagi jamaah yang tidak mendapatkan surat izin atau rekomendasi haji

Syeikh Dr. Abdullah Al-Muthlaq, anggota Dewan Ulama Senior di Saudi Arabiya berfatwa tidak diperbolehkannya menggunakan slogan-slogan politik selama musim haji. Ia menjelaskan bahwa Tanah Suci tidak boleh menjadi tempat kampanye politik, karena hanya akan mengganggu ibadah haji. Demikian dilansir Al-Arabiya.net (2/11).

Al-Muthlaq mengatakan bahwa tidak diperboleh bagi seorang Muslim untuk mengganggu keamanan orang yang berhaji serta menjauhkan mereka dari ibadah. Pendapat ini ia keluarkan dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan seputar penggunaan slogan-slogan politik selama musim haji, dan apakah hal tersebut dapat mengganggu ibadah haji.

Tahun lalu, pihak pemerintah Saudi Arabiya juga telah memperingatkan agar tidak ada demonstrasi selama musim haji, setelah sebelumnya pernah terjadi pada tahun 1987 yang dilakukan oleh jamaah haji dari Iran dan menewaskan lebih dari 400 orang. Akibat insiden tersebut, akhirnya hubungan antara Saudi dan Iran menjadi tegang, dan sampai pada tahun 1991 orang-orang Iran dilarang untuk berhaji.

Di samping itu, Al-Muthlaq juga berfatwa tidak diperbolehkannya berhaji bagi jamaah yang tidak mendapatkan surat izin atau rekomendasi haji. Keputusan ini juga dikeluarkan oleh para ulama-ulama senior. Dan seluruh negara-negara Islam sudah sepakat pada keputusan KTT Islam mengenai proporsi jumlah jamaah haji tiap masing-masing negara.

Al-Muthlaq menegaskan bahwa pengaturan mengenai masalah keberangkatan haji memiliki maslahat yang besar bagi umat Islam guna mencapai ketenangan dan kenyamanan selama menjalankan ibadah haji.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

AIPAC Gembira Politisi AS Pro-Israel Menang

AIPAC sebut para politisi itu meneruskan tradisi AS sebagai pendukung setia Israel

Kelompok pro-Israel bersuka-cita atas kesuksesan yang diraih oleh pendukung mereka, para politisi Partai Demokrat dan Republik dalam pemilu sela AS baru-baru ini. Dalam pemilu itu tiga orang Yahudi juga terpilih menjadi anggota Kongres yang baru.

Sebagaimana dilansir Haaretz (3/11), AIPAC, kelompok lobi Yahudi terbesar di AS, dalam sebuah pernyataannya mengatakan, "Banyak para pendukung dan teman terkuat dari hubungan AS-Israel kembali terpilih pada hari Selasa."

Pendukung Israel yang terpilih kembali diantaranya pemimpin mayoritas di Senat Harry Reid (Demokrat-Nevada) dan John Boehner (Republik-Ohio), yang kemungkinan besar akan menjadi pemimpin kelompok mayoritas di DPR setelah partainya merebut sebagian besar kursi dari tangan Demokrat.

AIPAC juga menyebut nama pendukung Israel lainnya yang terpilih kembali, seperti Nancy Pelosi, politisi pemimpin mayoritas di DPR dari Demokrat yang akan menyerahkan jabatannya itu ke rekannya dari Republik, Eric Cantor (Rep-Virginia) dan Steny Hoyer (Dem-Maryland).

"Sangat jelas sekali Kongres ke-112 ini akan meneruskan tradisi panjang Amerika yang gigih memberikan dukungan kuat, mengamankan dan memastikan ikatan persahabatan antara AS dan sekutu kami yang paling bisa diandalkan di Timur Tengah," kata AIPAC. Sekutu di Timur Tengah dimaksud tidak lain adalah Israel.

AIPAC juga menyambut hangat kemenangan 3 politisi baru Yahudi yang menjadi anggota Kongres, yaitu Richard Blumenthal (Dem-Connecticut), David Cicilline (Dem-Rhode Island) dan Nan Hayworth


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Beranikah Obama Dialog Dengan ABB?

Kunjungan Obama diakui dalam rangka membangun dialog. Beranikah, kira-kira berdialog langsung dengan Abubakar Baasyir?

Anggota fraksi PKS di DPR RI Kemal Aziz Stambul, menilai rencana kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama pekan depan ke Indonesia dalam rangka memenuhi janjinya yang beberapa kali sempat tertunda. Ia juga menilai, kunjungan merupakan upaya pihak Amerika membangun hubungan yang lebih baik.

"Saya melihat ini untuk mempertegas bahwa sebetulnya tidak ada masalah," kata Stambul dalam perbincangan dengan Hidayatullah.com, Kamis (04/11).

Menurut Ketua Kelompok Komisi (Kapoksi) XI DPR RI ini, Indonesia potensial menjadi jembatan menuju dialog antar Islam dan Barat. Terutama jika melihat fenomena maraknya Islam Phobia di banyak negara Barat karena pemahaman dan informasi seputar Islam yang tidak utuh yang mereka terima.

Sementara itu, mantan Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Fauzan Al Anshari mengatakan, rencana kedatangan Obama ke Indonesia dan menginjakkan kaki di di Istiqlal justru bentuk penghinaan.

"Obama datang ke Istiqlal itu penghinaan karena tentu akan ada banyak anjing Secret Service yang menyebabkan najis di lingkungan masjid," ujar Fauzan Al Anshari, dikutip JPNN, Selasa (2/11).

Jika Obama ingin berdialog, Obama harusnya mau berdialog langsung dengan Ustadz Abubakar Baasyir yang selama ini kerap dituding oleh Amerika sebagai teroris, tapi tidak pernah terbukti.

Menurut Fauzan, meskipun Obama datang ke Istiqlal, itu tidak berarti akan menghapus kesalahannya memerintahkan perang di Iraq dan Afghanistan yang menelan ribuan korban jiwa.

"Itu hanya citra. Kalau mau tebar pesona sebaiknya dialog saja dengan ustad Abu di Mabes Polri," tandasnya.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

AFKN Terapi Mental Korban Wasior

Para dai yang berasal dari beberapa daerah akan memberikan terapi mental pasca bencana kepada para korban banjir

Tepat pukul 4 sore hari, 10 orang dai yang tergabung dalam Yayasan Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) tiba di Wasior, Kab Teluk Wonda, Papua Barat. Rombongan dai yang dipimpin oleh Ustadz Fadzlan Garamatan itu berangkat dari Manokwari menuju Wasior selama 18 jam melalui jalur laut.

Para dai yang berasal dari beberapa daerah di Papua Barat, seperti Fakfak, Teluk Bintuni, Babo, dan Manokwari itu rencananya akan memberikan terapi mental pasca bencana kepada para korban banjir.

Idris Rimosan, salah satu dai yang berasal dari Teluk Bintuni mengatakan pasca banjir bandang ini masyarakat harus dikembalikan semangatnya untuk terus membangun negeri dengan cara menguatkan pemahaman agama.

"Mereka ini masih sangat kurang dalam pelaksanaan ibadah, untuk bisa mewujudkan itu harus intens melakukan silaturahim. Tidak cukup hanya dengan ceramah satu atau dua kali," ujar dai yang juga aktif di Pesantren Hidayatullah Teluk Bintuni ini.

Lain dari pada itu, Idris juga menjelaskan, dakwah di provinsi paling timur Indonesia ini terhalang kendala yang cukup berat. "Pasalnya mereka terpisah-pisah dalam perbedaan suku. Terkadang," jelasnya saat ditemui hidayatullah.com di Masjid Al-Falah Wasior, Kab Teluk Wondama, Papua Barat.

Selain memberikan terapi mental, AFKN juga membawa barang bantuan berupa: pakaian layak pakai, jilbab, baju muslimah, beras, minyak sayur, gula, mie instan, dan al-Qur'an. Bantuan sebanyak 50 ton itu akan dibagikan kepada masyarakat yang menjadi korban, baik masih berada di Wasior maupun yang mengungsi di Manokwari.

Selanjutnya, menurut Ketua Umum AFKN, Ustadz Fadzlan Garamatan, AFKN akan menyiapkan dai untuk berdakwah di tengah masyarakat Wasior.

Dalam pantauan hidayatullah.com di lokasi, masyarakat yang menjadi korban masih sangat membutuhkan bantuan bahan pangan dan pakaian. Sayangnya, menurut Sihombi, pengurus Masjid Al-Falah yang menjadi salah satu titik pengungsian masyarakat mengatakan, bantuan dari pemerintah tidak terdistribusi dengan merata.

Banjir bandang di Wasior terjadi pada hari Senin, 4 Oktober 2010. Hingga saat ini ratusan manusia masih belum diketemukan jasadnya. Sementara itu, menurut keterangan dari masyarakat, banyak terjadi pencurian rumah-rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger