Powered By Blogger

15 Agu 2010

Melatih Amanah di Bulan Barokah

Ketika pribadi-pribadi amanah telah tampil di permukaan, maka siapapun dia, akan dicintai oleh segenap orang

Hidayatullah.com--Al-Amin (orang yang amanah/terpercaya). Itulah gelar pertama yang disandang oleh Rosulullah. Yang menakjubkan, untuk pertama kali, gelar tersebut bukan berasal dari kaum muslimin, karena, saat itu, Rosulullah belum ’dilantik’ oleh Allah sebagai utusan-Nya. Sebagaimana yang tertera di dalam buku-buku sirah, dijelaskan bahwa, jauh sebelum Rosulullah dinobatkan sebagai Nabi dan Rosul yang akan mengeluarkan manusia dari kesesatan hidup, Nabi Muhammad telah dipercaya oleh kaum Quraisy, sebagai sosok yang amanah. Tak ayal, karena kepercayaan tersebut, tidak sedikit dari mereka yang menitipkan barang-barang berharga pada beliau.

Ketika turun wahyu pertama, sebagai titik awal dari kenabiaan, juga tidak serta-merta kepercayaan tersebut sirna, bak debu di atas batu yang terkena guyuran hujan. Hal tersebut terbukti, ketika beliau hendak melakukan hijroh ke Madinah. Beliau berpesan kepada Ali, agar mengembalikan seluruh barang-barang orang-orang Quraisy, yang masih berada di tangan beliau.

Itulah salah satu pesona Muhammad yang menjadi daya tarik orang-orang Arab pada saat itu, untuk mempercayakan urusan-urusan mereka kepadanya, hatta yang menyangkut permasalahan rumit yang nyaris menyulut perang saudara antar suku Quraisy. Peristiwa peletakan hajar aswad pada renovasi Ka’bah adalah bukti sejarah akan hal tersebut.

Selain itu, amanah, juga telah mendatangkan rizki ’nomplok’ bagi pemuda yatim ini dengan tanpa diduga-duga. Khadijah, yang sejatinya adalah majikan beliau, tidak malu-malu untuk menyatakan ketertarikannya kepada Muhammad. Ia bahkan menawarkan diri untuk menjadi pendamping hidupnya. Padahal, sebelumnya, telah antri para bangsawan Arab mengajukan lamaran untuk mempersunting Khadijah. Akan tetapi, karena terpikat terhadap sosok Muhammad yang amanah, beliaupun menjatuhkan pilihan pada cucu Abdul Mutholib ini.

Semua Suka

Amanah adalah satu perilaku yang diidam-idamkan oleh semua orang. Sebaliknya, khianat, merupakan perilaku yang semua orang enggan dengannya. Tak satupun orang sudi dikhianati. Amanah digemari, karena ia, apabila dilaksanakan akan mendatangkan kemaslahatan, sebaliknya khianat, justru akan membawa kepada kehancuran, atau ketimpangan keuntungan bagi segelintir orang. Sebab itu, wajarlah kalau manusia sangat medamba-dambakan sosok yang amanah, dalam segala lini kehidupan.

Seorang penjual, diharapkan amanah terhadap perniagaannya. Jangan sampai karena berhasrat untuk memperoleh keuntungan berlipat ganda, ia berkhianat terhadap para pelanggannya dengan cara mengurangi timbangan, barang cacat dibilang bagus, dan tipu daya yang lainnya.

Seorang hakim harus amanah dengan posisinya dalam memutuskan perkara. Jangan sampai, karena diberi uang ’pelicin’, keputusan-keputusan yang diambil timpang sebelah, lebih condong kepada pihak bermodal. Hasilnya, salah dan benar tidak ditentukan oleh keobjektivitasan suatu perkara, tapi lebih terhadap besarnya jumlah materi yang diterima.

Seorang pemimpin (baca pemerintah), pun juga harus demikian. Mereka harus amanah terhadap jabatan yang mereka duduki. Jangan sampai posisi tersebut justru dijadikan ajang pengerukkan harta-harta masyarakat, untuk mamperkaya diri, keluarga, ataupun kelompok sendiri.

Ketika pribadi-pribadi amanah telah tampil di permukaan, maka siapapun dia, akan dicintai oleh segenap orang. Seorang pedagang akan dicintai oleh para pelanggannya, Seorang hakim akan dielu-elukan kebijaksanaannya, begitu pula pemerintah yang amanah, akan disayangi, dicintai oleh masyarakat yang dipimpinnya. Apa yang terjadi pada diri Rosulullah adalah bukti nyata akan hal tersebut. Sebaliknya, pengkhiatan seseorang akan melahirkan kebencian mendalam pada diri orang yang merasa telah dikhianati. Tidak hanya itu, kehancuran masa depan, pun telah menanti, sebagaimana yang dialami oleh orang-orang Yahudi (Bani Quraizah) yang telah melakukan penghianatan perjanjian terhadap kaum muslimin, yang sebelumnya telah mereka sepakati.

Perintah untuk berlaku amanah, setidaknya tergambar secara gamblang pada salah satu firman Allah dalam surat Al-Anfal 27. ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

Barang Langka

Bila kita amati, apa yang terjadi di negeri kita saat ini, sepertinya perilaku amanah telah menjelma menjadi barang yang sangat sukar untuk ditemukan.
Yang lebih mencoreng muka, mayoritas penduduk bangsa ini, adalah beragama Islam, yang seharusnya menjadi pelopor utama dalam mempraktekkannya dalam kehidupan. Tapi, apa dikata, negeri ini sudah kadung dicap sebagai negeri terkoruptor, dikarenakan minimnya sifat amanah yang dimiliki oleh segenap masyarakat, mulai dari pejabat, hingga masyarakat biasa.

Buah yang dihasilkan, Indonesia jauh dari kemakmuran, sekalipun potensi alamnya sangat mendukung. Anak jalanan dan pengemis berkeliaran, yang putus sekolah tak terhitung jumlahnya. Perampokkan, pembegalan, penjarahan, kerap terjadi, yang menyebabkan keresahan masyarakat. Demonstrasi terjadi di sana-sini, makelar kasus, menyuapan, korupsi, seolah-seolah telah menjadi tradisi, sehingga, ketika kita sebut ”Indonesia” persepsi yang muncul adalah negara korupsi. Inilah realitas sosial Indonesia, yang hingga saat ini masih berkecamuk.

Puasa dan Perilaku Amanah

Saat ini, kita sedang berada di bulan yang penuh barakah. Disebut barakah, karena di dalamnya terdapat kebaikkan-kebaikkan. Dan ini selaras dengan definisi yang ditetapkan oleh para ulamak, bahwa barakah itu berarti, ”ziadatul khiairi” (bertambahnya kebaikkan).

Rosulullah bersabda, ”Telah datang padamu Bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka sambutlah kedatangannya. Telah datang bulan syiam membawa segala kebarakahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu.” (HR, At-Thabrani)

Dan salah satu kebaikkan yang terkandung dalam bulan Ramadhan yaitu, ia melatih kita untuk berperilaku jujur alias amanah.

Puasa adalah jenis ibadah yang berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain. Ia merupakan ibadah sirriyah, yang artinya tersembunyi. Tersembunyi dari penglihatan orang di luar diri kita. Berbeda dengan ibadah sholat, haji, zakat, yang wujud dari pelaksanaannya nampak, bisa disaksikan oleh siapa saja. Namun, khusus puasa, hanya kita dan Allah lah yang mengetahuinya. Orang lain tidak akan tahu-menahu apakah kita sedang berpuasa pada hari itu atau tidak, terkecuali, kalau kita nampakkan diri pada khalayak umum, bahwa kita memang sedang tidak berpuasa pada hari itu.

Dan di sinilah letak latihan amanah itu. Amanah kita sebagai seorang mukmin akan teruji dengan ibadah puasa. Kita bisa mengelabuhi semua orang dengan mengatakan, ”aku sedang berpuasa”, sekalipun kita telah berbuka. Dan orang lain tidak mempersoalkannya. Keamanahan kita tersebut, sebanding lurus dengan tingginya kadar keimanan yang yang kita miliki . Kita tidak akan berkhianat kepada Allah, manakala iman kita kuat. Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat.
Perilaku khianat yang saat ini telah menjadi tren hidup sebagian masyarakat, tidak lain karena rendahnya kadar keimanan yang mereka miliki. Tidak mungkin akan terjadi pengkhianatan, manakala keimanan itu masih ada, sebab Rosulullah pernah menjelaskan dalam salah satu sabdanya, bahwa, tidak akan mencuri seorang pencuri ketika mencuri dia beriman. Dan tidak akan berzina seorang penzina, ketika berzina dia dalam keimanannya.

Walhasil, untuk memangkas budaya khianat yang telanjur mewabah, dan untuk menumbuhkan perilaku amanah, kita harus mempertebal keimanan kita kepada Allah. Semoga, ibadah puasa yang saat ini tengah kita laksanakan, yang menjadi ajang melatih amanah, benar-benar menjadi titik balik itu semua, sehingga terwujudlah cita-cita kita menjadikan Indonesia sebagai baldatun thoibatun wa rafful ghofur. Amin..amin yaa rabbal ’aalamin. Wallahu ’alam bis-shawab. [Robin Sah/hidayatullah.com]


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Feminis Sejati, Bisa Berbagi Suami!

Feminis sejati tidak mencela perilaku poligami, itulah yang dialami Asiila Rasool. Berbagi suami selama 18 tahun

Hidayatullah.com--Asiila Rasool adalah perempuan berusia 53 tahun, seorang pelaku homeschooling, bidan dan penulis. Ia menikah, memiliki keluarga besar dan mempunyai misi menegakkan ajaran-ajaran sunnah Nabi yang telah banyak ditinggalkan umat Islam.

Pertengahan Juli 2010 lalu melalui Altmuslimah, ia mencoba berbagi rasa tentang kehidupan poligami dan feminisme. Berikut kutipannya yang ditulis dengan bahasa tutur.

***

Saya telah berbagi suami selama 18 tahun. Saya pernah menikah secara monogami maupun poligami. Dari keduanya, saya lebih suka pernikahan poligami.

Pandangan bahwa berbagi suami merupakan sesuatu yang tidak bermoral, merendahkan, dan merupakan bencana atau malapetaka bagi paling tidak salah satu pihak sehingga menimbulkan pederitaan dan kesusahan sepanjang hidupnya, dianggap sebagai fakta tak terbantahkan oleh mereka yang meyakini bahwa perkawinan monogami adalah satu-satunya jalan untuk mencapai kebahagiaan.

Sayangnya, kebanyakan umat Islam sekarang, menerima pendapat yang demikian itu.

Saya sangat yakin bahwa perempuan akan berkembang maju dengan pesat jika mereka tidak terlalu terpaku dengan pemikiran bahwa berbagi suami dengan perempuan lain merupakan sebuah penghinaan atas feminisme.

Kenyataanya, saya katakan bahwa jika seseorang ingin melihat feminisme yang sebenarnya dilakukan, mereka akan menemukannya di rumahtangga poligami yang kooperatif dan penuh cinta! Bahkan lebih jauh saya katakan: oleh karena betapa potensialnya keuntungan yang didapat keluarga dengan lebih dari satu istri, poligami harus dimasukkan dalam piagam HAM perempuan.

Bagi saya, feminisme artinya 'pro-perempuan'. Saya menanggap diri sendiri sebagai seorang feminis, ketika saya masih bersekolah dan kuliah dulu. Dan saya yakin bahwa pekerjaan yang sama harus mendapat upah yang sama tanpa melihat jenis kelamin. Saya juga percaya akan adanya kesalahan dalam budaya, seperti sunat bagi perempuan dan membunuh atas dasar kehormatan, yang semuanya itu merupakan bentuk penindasan.

Namun saya melepas label feminis itu dari aborsi, lesbianisme, ketidakmampuan wanita Eropa menerima perbedaan budaya dari wanita non-Eropa, generalisasi atas pria dan maskulinitas sebagai antifeminisme dan menyamakannya dengan feminisme.

Sebut seorang misoginis (pembenci wanita) sebagai seorang misoginis. Tapi, perlu diingat bahwa tidak semua laki-laki menindas perempuan. Banyak diantara mereka, meskipun tidak semuanya, yang memiliki cinta dan penghormatan yang begitu besar kepada kita 'mahluk yang memiliki rahim'.

Menurut saya, gerakan feminisme mengambil jalan yang salah ketika mereka keliru mengenali bahwa feminis yang sebenarnya adalah merangkul feminitas mereka. Bahwa perempuan tidak harus 'seperti' laki-laki agar bisa berdiri sejajar dengan mereka. Dan bahwa sifat saling ketergantungan antar jenis kelamin merupakan sesuatu yang seharus dihargai dan bukannya dinafikan.

Dalam pandangan saya, feminis yang ideal itu mencintai dan menghormati sifat-sifat kemanusiaan; baik laki-laki maupun perempuan. Dia tidak menghapus kenyataan bahwa kebanyakan laki-laki itu sifatnya cenderung untuk berpoligini (memiliki banyak pasangan). Dan tidak pula ia mencela perilaku poligini itu sebagai perbuatan yang tidak bermoral atau tidak beradat.

Kebanyakan wanita tidak bisa memberikan hati dan perasaan mereka kepada lebih dari satu pria, sementara pria bisa mencintai sekaligus berkomitmen kepada lebih dari satu wanita pada waktu yang sama.

Seorang feminis yang percaya diri itu adalah yang sadar bahwa sifat alami suaminya yang cenderung untuk berpoligini tidak akan merusak harga dirinya. Ia memiliki empati kepada perempuan lain yang ingin menikah tapi belum bisa, karena berbagai alasan belum menemukan seorang laki-laki bujang yang bisa diajak berumahtangga.

Jadi, ketika seorang istri baru memasuki kehidupan pasangan tersebut, tidakkah muncul rasa cemburu dari dalam hati masing-masing wanita yang menjadi istri itu? Perasaan cemburu biasanya ada dan dianggap sebagai reaksi 'alami' yang dimunculkan oleh semua wanita yang menjalaninya. Yang mana hal itu dianggap sebagai 'bukti nyata' dari perasaan cinta seorang istri atas suaminya.

Saya menyatakan tidak setuju dengan pendapat tersebut. Kecemburuan, hanya menunjukkan perasaan ketidakamanan seorang wanita, yang mungkin sangat tergantung pada diri wanita itu sendiri dan hubungannya dengan suaminya. Cemburu dalam hal ini bisa dibilang 'normal' jika memenuhi harapan dan kenyataannya didukung oleh masyarakat. Tapi, tidak selalu berarti bersifat 'alami', karena banyak perempuan yang tidak merasa cemburu jika berbagi suami dengan perempuan lain.

Kecembuaruan adalah produk dari perasaan ketidakamanan dan persaingan.

Kebanyakan feminis akan setuju dengan Nabi Muhammad Shalallahu'alai Wa Sallam yang memperingatkan kita agar tidak meninggikan mahar atas anak gadis kita. Dengan kata lain, kita tidak seharusnya mengajarkan untuk menghargai diri mereka berdasarkan kecantikan atau materi. Jika kita mengajarkan yang demikian, maka hanya akan menambah persaingan tidak alami di kalangan perempuan dan menumpulkan kemampuan mereka untuk menyadari apa yang telah dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya.

Berdasarkan sebuah ayat dalam surat Al-Falaq, saya menentang pemahanan yang mengatakan bahwa perempuan 'berhak' untuk cemburu. Surat Al-Falaq mengajarkan kita untuk berlindung pada Allah dari perasaan dengki terhadap orang lain dan berlindung dari perasaan cemburu (iri) yang bersemayam dalam hati. Peringatan itu jelas menunjukkan bahwa sifat ini dapat merusak dan perasaan tersebut harus dikendalikan. Semuanya itu membutuhkan perubahan baik dalam pemikiran dan tingkahlaku.

Saya tidak bisa menyangkal bahwa telah beribu-ribu tahun 'cemburu' dipandang sebagai bagian dari kehidupan manusia, bahwa seorang wanita pasti harus berperang melawan perasaan cemburunya jika ia mencurigai ada wanita lain yang jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan suaminya. Tapi seharusnya masyarakat tidak membenarkan cemburu itu sebagai respon yang natural, dan tidak juga membuat para wanita merasa bersalah karena memberekan reksi cemburu kepada wanita lain. Masyarakat jusru seharusnya menasihati dan mendukung wanita itu untuk mengatasi penyakit spiritualnya tersebut.

Perempuan adalah mahluk yang sangat penyayang. Jika dia mau, dia bisa dengan sangat nyaman membagi suaminya dengan perempuan lain. Apakah perempuan moderen tidak menghargai waktu 'cuti', untuk sedikit meluangkan waktu merindukan dan mengharap-harap kedatangan suaminya tercinta? Dia tahu di mana suaminya berada dan dengan siapa. Dengan berbagi suami, ia bisa merasakan dunia bujang dan sekaligus dunia rumahtangga. Jika para wanita saling menghormati, saling menyukai dan bahkan saling menyayangi, maka sebuah ikatan persaudaraan yang sangat kuat akan terbina.

Saya pernah bertemu dengan tiga wanita muslim yang menikahi seorang pria yang sama. Ketiga-tiganya mengatakan, ketika mereka tidak merindukan suaminya, mereka sangat merindukan persaudaraan sebagai sesama istri.

Ingatlah hal ini, bahwa Allah Maha Adil dan Ia memperbolehkan poligami.

Tidak selamanya bahwa poligini itu tidak adil. Sayangnya, justru inilah yang banyak ditemui dalam rumahtangga poligami yang ada sekarang, setidaknya sampai para wanita bisa mengatasi tekanan sosial yang mendesak mereka agar tidak menyukai perkawinan tersebut dan para pria bisa berlaku adil.

Keadaan yang menyedihkan ini, menunjukkan betapa jauh sudah muslim laki-laki dan perempuan terpisah dari fitrah agama kita. Betapa kita telah lupa bagaimana cara berperilaku terhadap sesama, dan betapa kita telah kehilangan pemahaman atas nilai-nilai keluarga Islami.

"Berapa banyak karunia Allah yang akan terus kita pungkiri?"[di/atlm/hidayatullah.com]


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Kolera dan Kemarahan Landa Korban Banjir Pakistan

Wabah penyakit kolera dan rasa amarah sedang melanda korban banjir di Pakistan. Siapa cepat menolong?

Hidayatullah.com—Belum surut menghadapi musibah banjir, warga Pakistan kini terancam wajah korela. Kasus kolera pertama dikonfirmasi di kota utama di lembah Swat, Mingora.
Kota terbesar di lembah Swat. Penyakit yang ditularkan melalui air itu bisa dengan mudah menyebar. Menurut Perserikatan Bangsa-bangsa sekitar 36 ribu orang terancam mati akibat murus cair.
"Kebanyakan adalah kasusnya diare". Ujar Dr. Shahid Iqbal kepada CNN. Di kawasan yang masih tergenang air, arus sungai Swat bertambah deras dengan banjir susulan yang kembali menerjang wilayah selatan Pakistan. Di Utara, hujan pun tak tampak akan mereda. Menurut informasi resmi pemerintah Pakistan, sekitar 1,500 orang yang tewas akibat banjir ini. Perdana Menteri Pakistan Yusuf Raza Gilani mengatakan hari Sabtu, bahwa 20 juta orang terimbas oleh banjir yang telah menghancurkan rumah, panen dan persediaan pangan.
Dalam klinik-klinik darurat, dokter-dokter bekerja sepanjang waktu menangani antrian korban yang sakit. Di kawasan banjir itu, sekitar 100 klinik hancur dilanda air bah. Peralatan, bahkan obat-obatan sangat kurang. Air bersih tidak ada.
"Di sini bukannya ada keterbatasan air bersih, di sini sama sekali tidak ada air bersih. Dan bila kita tidak berhasil, dan fokus kami adalah mengupayakan dengan cepat, maka jumlah orang yang mati akan melejit drastis. Akibat banjir ini ada anak yang meninggal di menit kita berbicara sekarang,“ ujar Pascal Cuttat dari Palang Merah Internasional.
Amarah Warga
Sementara ancaman kolera di depan mata, massa sudah dihinggapi rasa marah akibat kelaparan yang melanda korban. Mereka berusaha menghentikan milil organisasi bantuan Kristen Shelter Now, di Kota Nowshera, Pakistan. Massa memperebutkan kantung-kantung plastik berisi Kabli Pulao, yaitu nasi yang dicampur dengan kismis dan kacang-kacangan. Dalam beberapa detik, sekelompok orang itu saling tumpang tindih. Kelaparan dan kemarahan bercampur jadi satu.
Anak-anak mencoba meraih makanan bantuan itu. Para relawan berusaha melakukan yang terbaik dalam menenangkan mereka. Dengan tidak sabar para korban banjir itu melahap makanan yang diperoleh.
Seorang korban banjir mengutarakan kemarahannya terhadap pemerintah Pakistan: “Pemerintah kami sangat tidak membantu. Tidak ada pemimpin pemerintah yang datang ke sini. Karena mereka semua adalah perampok dan anjing. Jika presiden kami Asif Ali Zardari datang ke negeri kalian, jangan beri dia bantuan apalagi uang. Dia perampok,“ ujarnya dikutip sebuah media Jerman dengan nada marah.
Tudingan berat yang dilontarkan sebagaimana yang dikeluhkan di Nowshera, Pakistan barat laut, dan terdengar kemana-mana adalah; Pemerintah Pakistan terlalu sedikit membantu dan yang dibantupun hanya yang mendukung pemerintah. Uang untuk bantuan darurat dikorupsi dan dalam jangka waktu panjang tidak mampu membangun kembali kerusakan akibat bencana.
Seorang warga berujar, ”Dalam lima puluh tahun ke depan, situasi tidak akan kembali seperti sebelumnya. Apakah kami harus mati? Haruskah kami bunuh diri? Haruskah kami saling bertempur? Tak ada yang peduli, hanya Tuhan.“
Akibat musibah ini, Presiden Pakistan Asif Ali Zardari membatalkan perayaan hari kemerdekaan Pakistan akibat bencana ini, dan Sekretaris Jendral PBB Ban Ki Moon ditunggu kedatangannya di lokasi hari Sabtu sore. Sementara itu di televisi Pakistan, Perdana Menteri Yusuf Raza Gilani menggambarkan bahaya ancaman menyebarnya wabah dan upaya-upaya untuk menanganinya. [dwwd/cha/hidayatullah.com]


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

PKS Dukung Wanita Jadi Kepala Daerah

Keputusan PKS untuk mengusung wanita sebagai pemimpin sudah dapat persetujuan dari Dewan Syariah Pusat PKS
Hidayatullah.com--Partai Keadilan Sejahtera untuk pertama kalinya mendukung wanita sebagai wali kota dalam pencalonan pemilihan kepala Daerah Tangerang Selatan, Banten. Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tangerang Selatan Ruhamaben, Sabtu, mengatakan, pengusungan wanita dalam Pilkada kali ini merupakan hasil kesepakatan dan persetujuan oleh Dewan Syariah Pusat PKS.
Ia menambahkan pengusungan tersebut sifatnya hanya tingkat daerah bukan nasional, maka pengusungan wanita sebagai pemimpin tidak menjadi masalah.
"Keputusan PKS untuk mengusung wanita sebagai pemimpin sudah dapat persetujuan dari Dewan Syariah Pusat PKS. Jadi, itu yang menjadi pegangan kita untuk mengusung Airin sebagai bakal calon wali kota Tangerang Selatan," kata Ruhamaben usai acara deklarasi pasangan Airin-Benyamin Davnie di gedung Puspiptek Serpong.
Ruhamaben yang juga Wakil Ketua DPRD Tangerang Selatan menambahkan, meskipun pendukungan wanita sebagai kepala daerah ini baru pertama kali dilakukan, namun hal tersebut tidak menjadi masalah bagi PKS sendiri.
Sebab, PKS sebelumnya telah melakukan penjaringan internal dan eksternal untuk maju dalam Pilkada Tangerang Selatan. Namun, nama Airin mencuat dan lebih dikenal masyarakat sehingga menjadi alasan PKS untuk mendukung Airin yang berpasangan dengan Benyamin Davnie.

"Airin memang bukan kader dari PKS, tetapi kita melihat Airin sudah dikenal publik. Jadi, dukungan publik yang akan memilih Airin lebih besar," paparnya.

Mengenai kontrak politik sendiri. Ruhamaben menuturkan, PKS sudah membuat kesepakatan kontrak bila Airin terpilih menjadi wali kota nanti, yakni menciptakan pemerintahan yang bersih, peningkatan pelayanan publik dan memajukan bidang pendidikan serta mendukung dakwah Islam yang digalakkan PKS di Tangerang Selatan.

"Airin juga harus mendukung dakwah yang dilakukan PKS di Tangerang Selatan," bebernya.

Airin yang berpasangan dengan Benyamin Davnie mendapat dukungan delapan Parpol yakni Partai Demokrat, PKS, Golkar, PDI-P, PKB, PDS, PKPI, PPDI.

Airin Rachmi Diany merupakan adik ipar dari Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah. Airin sebelumnya juga pernah diusung PKS dalam Pilkada Kabupaten Tangerang tahun 2007 lalu sebagai wakil Bupati berpasangan dengan Jazuli Juwaeni.

Sedangkan Benyamin Davnie merupakan Kepala Bappeda Kabupaten Tangerang yang juga pernah ikut dalam Pemilihan Gubernur tahun 2006, berpasangan dengan Trya Sjam`un. Namun, ketika itu, benyamin kalah dari lawannya Ratu Atut Chosiyah yang berpasangan dengan Masduki. [ant/hidayatullah.com]


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Din Tetap Anggap Cara Penangkapan Ba'asyir Tidak Tepat

Cara penangkapan yang dilakukan petugas Kepolisian terhadap Ustad Abubakar Ba’asyir dinilai Ketua PP Muhammadiyah kurang tepat
Hidayatullah.com--Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menilai cara penangkapan yang dilakukan petugas Kepolisian terhadap pimpinan Pondok Pesantren Al Mu`min di Desa Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, Abubakar Ba`asyir tidak tepat.

"Cara penangkapan yang dilakukan petugas polisi dengan kekerasan dalam terhadap tokoh seperti Ustadz Ba`asyir tidak tepat. Saya ikut memprotes cara penangkapan seperti itu," kata Din Syamsuddin dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu 14 Agustus 2010.

Menurut dia, Abubakar Ba`asyir adalah seorang tokoh agama dan telah berusia lanjut serta dalam kondisi lelah setelah mengisi pengajian di Kota Bandung dan Kota Banjar di Jawa Barat, pada pekan lalu.

Kalau penangkapan terhadap Noordin M Top, Dr Azahari atau lainnya yang diduga melengkapi diri dengan bom bisa saja dilakukan dengan cara kekerasan.

Tapi penangkapan terhadap Abubakar Ba`asyir seorang ustadz yang sudah berusia lanjut, menurut dia, kurang tepat dan hal ini bisa menjadi preseden buruk karena akan membuat trauma para da`i dan mubaligh untuk mengisi pengajian.

Menurut Din, meskipun dirinya ikut memprotes cara penangkapan terhadap Abubakar Ba`asyir tapi tidak berarti menghalang-halangi upaya pemberantasan terorisme.

"Saya mendukung pemberantasan terorisme, karena terorisme adalah musuh negara dan musuh agama teruatama Islam. Tidak ada satu agama apapun yang membenarkan terorisme," kata Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.

Menurut dia, dalam pemberantasan terorisme yang dilakukan aparat Polri harus tetap mengindahkan aturan-aturan hukum yang berlaku, termasuk hak azasi manusia (HAM) dan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi etika kesantunan.

Din Syamsuddin juga meminta kepada Polri bahwa penangkapan terhadap seorang tokoh dengan dugaan terlibat kasus korupsi hendaknya didasarkan pada bukti-bukti yang kuat dan akurat.

"Jika ada bukti-bukti yang kuat dan akurat harus dijelaskan kepada publik sehingga tidak ada persepsi negatif dari masyarakat. Sebaliknya jika tidak ada bukti-bukti yang kuat agar dibebaskan demi hukum," katanya. [ant/ti/hidayatullah.com]


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Syekh Ikrimah: Jangan Berwisata ke Masjidil Aqsa!

Berbagai kunjungan tersebut justru hanya akan memberikan legitimasi terhadap penjajahan Israel
Hidayatullah.com--Imam Masjid al-Aqsa Syekh Ikrimah Shabri memperingatkan para Muslim untuk tidak berpariwisata ke Al-Quds selama tempat ini masih dijajah Israel. Menurutnya, berbagai kunjungan tersebut justru akan memberikan legitimasi pada penjajahan ini.
Syekh Sabri tengah menanggapi himbauan Pemimpin Otorita Palestina, Mahmud Abbas, kepada warga Arab dan Muslim untuk berkunjung dan berpariwisata ke Palestina terutama al-Quds karena menurutnya hal ini akan menghentikan blokade Israel atas kota suci umat Muslim ini.

Syekh Ikrimah, dalam sebuah harian Yordania, Al-Ghad, mengatakan bahwa dukungan terhadap al-Quds tidak dapat diberikan dengan berkunjung dan berpariwisata ke sana. Seharusnya dukungan diberikan melalui bantuan pada berbagai institusi kesehatan, pendidikan, perumahan, dan berbagai organisasi pemuda di al-Quds.

Prof. Dr. Syekh Yusuf Qaradhawi beberapa tahun silam memang telah mengeluarkan fatwa mengenai haramnya melakukan kunjungan ke Al-Quds dan masjidil Aqsa selama kota dan masjid suci umat Muslim tersebut masih berada dibawah cengkeraman Israel. “Kami tidak akan shalat di Masjidil Aqsa selama masih dibawah kekuasaan Israel”, demikian pernyataannya di TV Al-Jazeerah.

Ustadz Akram Kassab, Ketua Umum Persatuan Murid-murid Qardhawi menjelaskan bahwa, “Setiap orang dari luar Palestina yang berwisata ke Masjidil Aqsa mau tidak mau harus mengakui kekuasaan penjajah Zionis Israel atas Masjidil Aqsa, karena harus mendapatkan izin dari imigrasi dan angkatan bersenjata Israel. Para wisatawan pun diharuskan membayar izin masuk perbatasan. Pada akhirnya, uang hasil pembayaran untuk berwisata tersebut akan dipakai mempersenjatai tentara Israel untuk membunuh, menyiksa, merampok dan mengusir saudara-saudara kita di Palestina,” tegasnya. [SA/hidayatullah.com]


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Keuskupan Surabaya Bangun Seminari Pencetak Calon Pastur

Dibangun di atas lahan seluas 6.000 meter persegi, menempati gedung lima lantai dan akan menyiapkan calon pastur
Hidayatullah.com—Bertempat di wilayah Keputih Surabaya, tepatnya di perumahan Pakuwon City, Surabaya, Keuskupan Surabaya akhirnya menetapkan pembangunan Seminari Tinggi Providentia Dei. Gedung baru yang permanen ini khususkan untuk mencetak para calon pastor di Keuskupan Surabaya. Upacara peletakan batu pertama dilakukan pada 7 Agustus lalu dihadiri sekitar 200 orang.
Pembangunan Seminari Tinggi Providentia Dei di Keuskupan Surabaya , yang diperkirakan menelan biaya 20 miliar rupiah.
Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono mengatakan seminari yang dibangun di atas lahan seluas 6.000 meter persegi itu, dirancang guna memberikan kesempatan kepada para frater “untuk memperdalam iman dan mempersiapkan diri mereka untuk melayani umat Katolik setempat.”
Keputusan untuk membangun seminari tersebut didorong oleh kebutuhan keuskupan untuk mendapat imam baru “guna melayani umat keuskupan dan membantu mereka mengatasi permasalahan hidup,” kata Pastor Yohanes Padmono Hapsara Jelantik kepada ucanews.com.
Rencananya, gedung seminari ini berada satu kompleks dengan kampus Universitas Katolik Widya Mandala.
"Rupanya, panitia memilih tanggal istimewa untuk peletakan batu pertama, yakni 7 Agustus 2010, pukul 09.00. Jadi, angkanya gampang diingat: 7, 8, 9, 10," ujar Fransiskus Joko, staf Keuskupan Surabaya, kemarin.
Didirikan Mgr Sutikno pada 4 Agustus 2009, Seminari Providentia menempati gedung sementara di Hening Griya, Jl Jemur Handayani Surabaya. Sejak awal uskup asli Tanjung Perak, Surabaya, ini bertekad membangun gedung yang layak sebagai kawah candradimuka para calon pastor di masa depan. Lantas, dibuatlah desain gedung yang megah lima lantai.
Rencananya proyek pembangunan seminari tinggi ini akan rampun pada bulan Mei 2011.
"Mudah-mudahan rencana pembangunan gedung seminari berlangsung mulus," kata salah satu tokoh umat Katolik di Surabaya.
Selama ini para calon romo yang akan bertugas di Keuskupan Surabaya menempuh pendidikan, pembinaannya ditititkan di Seminari Widya Sasana Malang. [uca/hur/hidayatullah.com]
Foto: Uskup Surabaya Vincentius Sutikno Wisaksono meresmikan pembangunan Seminari Tinggi Providentia Dei [dari hurekblog]


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger